Adrasteia Revealed

Saat Kroasia ‘menimpa’ Austria

June 9, 2008 · 10 Comments

7 Juni 2008, 20.35

Saya duduk di sebuah bar bersama beberapa teman sambil nunggu pertandingan antara Portugal lawan Turki dimulai. Setiap beberapa menit beberapa rombongan baru memasuki bar. Satu hal yang saya perhatikan sejak 1 jam yang lalu duduk di sana adalah : yang mau tanding Portugal lawan Turki, tapi yang nonton mayoritas pakai baju Kroasia. Dan yang lebih menarik lagi, lagu yang dipasang di bar itu adalah lagu-lagu Kroasia (yang saya ketahui belakangan, ternyata para pendukung Kroasia ini bawa CD sendiri buat dipasang disana). Suara mereka nggak habis-habis buat terus meneriakkan nama negaranya sambil bernyanyi.

8 Juni 2008, 10.15

Saya iseng jalan ke tengah kota. Biasanya jam segini masi sepi. Tapi hari ini lain! Dari mulai saya turun kereta, yang keliatan hanya orang-orang dengan baju kotak-kotak berwarna merah dan putih (baca : pendukung Kroasia). Apalagi pas saya mulai jalan di tengah kota. Jalanan tuh kayaknya udah penuh sama pendukung Kroasia. Nggak hanya itu, dari dalam mobil juga muncul baju kotak-kotak mereka yang nggak mungkin nggak keliatan gara-gara terlalu mencolok. Yang saya bingung, saya lagi di tengah kota Wina, yang adalah ibu kota Austria, yang adalah lagi malamnya akan bertanding melawan Kroasia dan juga berperan sebagai tuan rumah. Tapi pada kemana pendukung Austria? Kalo saya kira-kirain, adalah 1:5 jumlah pendukung Austria sama Kroasia yang hari ini saya liat.


Tapi yang jelas, pas malemnya saya nonton sama orang-orang Indonesia (yang mayoritas dukung Austria), kerasa banget tersingkirnya saya. Apalagi melihat muka-muka mereka yang kesel begitu menit-menit terakhir Austria nggak juga berhasil nyetak gol. Dan saya nggak bisa loncat-loncat waktu Kroasia menang. Haha
:)

ps : Foto yang saya ambil itu belum seberapa. Di koran yang saya baca tadi pagi, orang-orang udah keliatan kecil banget dari atas. Tapi teteupp, baju kotak-kotak khasnya keliatan banget. ckck

→ 10 CommentsCategories: Personal Notes · Vienna

McD vs KFC

May 12, 2008 · 18 Comments

Saya tahu kok fastfood berbahaya. Tapi kalau tiap berapa meter ketemunya itu-itu aja, mau nggak mau saya suka tergoda juga untuk beli hehe. Saya bukan mau ngomongin fastfood tidak baik untuk kesehatan kok sekarang. Saya cuma mau membagi apa yang saya suka dan tidak suka dari kedua restoran cepat saji diatas.

McD : Ini mungkin restoran cepat saji yang paling jarang saya datengin. Tapi banyak orang-orang sekitar saya yang suka pergi kesini. Menurut mereka, burger yang disajikan McD itu bermacam-macam, enak semua lagi. Hmm, saya suka Chiken Burgernya doang! Hehe. Yang saya rasain malahan, makanannya terlalu enek. Dan saya nggak begitu suka kentang gorengnya. Eh, sundaenya enak tapi. Lagian kalau sudah akhir bulan, saya pasti lebih milih ke McD, lebih murah! :)

KFC : Ayamnya KFC emang nggak ada tandingannya. Kalau sudah ke KFC, saya bisa jadi rakus mendadak. Burgernya juga bukannya nggak enak kok. Roti burgernya mereka mantap! :) Emang sih harganya lebih mahal kalau dibandingin sama McD, tapi sebanding sama rasa yang mereka kasih. (Dan kalau ke KFC, lebih enak bawa sambel botol ABC haha.)

Sejujurnya, restoran cepat saji favorit saya itu Burger King. Kalau yang ini bener-bener dasyat! Hehe. Buat saya semuanya enak. Burgernya enak, kentang gorengnya enak, es krimnya enak, semuanyalah. Tapi ya gitu, harganya juga kadang bikin saya mikir buat sering-sering kesini hehe. Cuma ya enaknya, begitu selesai makan, saya kenyangnya puas. Lagian Burger King lebih fresh dan nggak bikin enek. Tapi ya, kalau ayam sih, KFClah..KFC! :)

→ 18 CommentsCategories: Uncategorized

Beda Orang, Beda Cara Belajar

May 12, 2008 · 2 Comments

Karena minggu kemarin saya banyak ujian, jadi tiap hari kerjanya belajar teruss. Buat saya cukup susah ngafalin materi-materi ujian pake bahasa Jerman. Saya pun mencoba-coba bagaimana cara belajar yang gampang, supaya saya cepet inget. Awalnya saya nerusin cara belajar waktu SMA dulu. Baca materi, dimengerti, ulangin sambil terus ngafalin. Tapi ternyata nggak berfungsi lagi sekarang. Saat ujian berlangsung beberapa soal saya lewatin gara-gara lupa bahasa Jermannya apaan. Saya langsung bertekad merubah cara belajar. Malamnya dengan berlembar-lembar kertas di meja, setiap satu point penting yang saya hafalin langsung saya tulis di kertas. Saya ulang tiga sampai empat kali, dan begitu seterusnya. Jangka waktu yang diperluin emang lebih lama, tapi ternyata waktu ngerjain ujian besoknya, tangan saya lancar banget nulis jawaban hehe. Dan inilah cara belajar yang (saat ini) benar-benar menolong saya. Di kelas juga saya iseng-iseng ngeliatin temen-temen yang lagi belajar. Ada yang kaya saya ditulisin di kertas, ada yang komat-kamit, mondar-mandir, tanya jawab sama temen sebelahnya, duduk manis dan diam sambil menatap materi-materi ujian dengan serius, dan yang pasti ada beberapa orang yang bukan belajar tapi sibuk merancang rencana contek-mencontek hehe. Weekend ini saya pergi ke Budapest buat ngunjungin si abang. Ternyata dia juga lagi ujian. Tadi siang, dari dapur saya dengerin dia lagi ngafalin materi-materi buat ujiannya. Saat masuk ke kamar, saya menemukan lagi satu cara belajar : ternyata dari tadi dia lagi ngafalin, tapi tangannya sambil main game di HP haha.

Ada yang punya cara belajar sendiri? Siapa tau bisa saya coba :)

→ 2 CommentsCategories: Personal Notes

Ayahnya adalah Kakeknya

April 28, 2008 · 13 Comments

Tadi pagi saya pergi ke kampus sambil baca bahan-bahan buat ujian besok. Seperti biasa, begitu sampai di stasiun saya suka merhatiin berita koran hari ini apa. Kalau seru saya ambil, kalau nggak ya saya lewatkan begitu saja. Dan judul berita yang saya baca membuat tangan saya refleks mengambil dengan cepat koran tersebut. Sepanjang perjalanan ke kampus hanya saya habiskan untuk membaca 6 halaman berita ini. Judulnya : Seorang Ayah mengurung anaknya selama 24 tahun. Yang bikin saya tertarik adalah, tahun lalu kejadian yang hampir sama seperti ini juga terjadi. Seorang gadis ditemukan selama 8 tahun dikurung di dalam ruang bawah tanah oleh seorang pria yang menculiknya saat ia kecil. Dan beginilah awal mulanya bagaimana semuanya bisa terbongkar.

Seorang gadis berusia 19 tahun terbaring dalam keadaan kritis di sebuah Rumah Sakit. Namanya Kerstin. Entah gemana pokoknya para dokter bertanya soal ibunya. Akhirnya terbongkarlah sebuah cerita. Josef Fritzl, pria berusia 73 tahun, didapati mengurung putrinya, Elisabeth, selama 24 tahun di ruang bawah tanah rumahnya. Saat itu Elisabeth berusia 18 tahun. Kepada istrinya ia mengatakan, putrinya pergi untuk bergabung dalam organisasi keagamaan (mungkin seperti suster gitu, yang menyebabkan putrinya tak dapat kembali kerumahnya). Istrinya percaya saja tanpa ada perasaan curiga kepada suaminya. 19 Mei 1993, Elisabeth melahirkan seorang bayi perempuan. Tentu saja yang menghamilinya adalah ayahnya sendiri. Tidak berhenti disitu, pada 15 Desember 1994, lahir bayi kembar. Namun salah satu dari mereka meninggal. Hal ini terus berlanjut, sampai anak yang dilahirkan oleh Elisabeth berjumlah 7 orang (1 meninggal). Kerstin adalah salah satu anak yang dilahirkan olehnya. Tiga orang dari mereka tinggal bersama Elisabeth di ruang bawah tanah, sedangkan sisanya diletakkan di depan pintu rumah orang oleh sang ayah. Sekarang Elisabeth berusia 42 tahun ketika ditemukan oleh polisi. Sang ayah ditangkap dan istrinya masih terus tidak percaya kalau selama 24 tahun, diruang bawah tanah rumahnya berlangsung hal-hal mengerikan.

Info terbaru yang saya dapatkan, ternyata rumah tempat anak tersebut dikurung disewakan oleh ayahnya kepada kakak adik yang berusia sekitar 20 tahunan. Mereka tidak diizinkan masuk ke ruang bawah tanah. Selama ini mereka tidak curiga sama sekali. Kecuali kata sang adik, ia pernah mendengar beberapa kali suara jeritan atau tangisan. Tapi kemudian dianggapnya lalu karena tak terpikir sama sekali kalau rumah yang ia tinggali tersimpan kisah “horor”. Diketahui kemudian, sang ayah membuat pintu khusus untuk dapat masuk ke ruang bawah tanah tanpa diketahui oleh kakak adik yang tinggal disana. Benar-benar direncanakan dengan baik.

Coba bayangkan apa yang dikatakan sang anak bila seseorang bertanya, “siapa ayahmu?”. Lalu ia akan menjawab, “ayahku adalah kakekku”. Saya masih nggak habis pikir kenapa ada kejadian seperti ini :(

→ 13 CommentsCategories: Uncategorized

Collins Owusu

April 14, 2008 · 4 Comments

Saya sebenernya sudah siapin satu bahan buat di post, tapi saya pending dulu deh hehe. Kemarin saptu seperti biasa, tepat pukul 20.15 saya duduk depan TV dan menikmati acara Deutschland Sucht den Superstar. Pesertanya tinggal 7 orang, dan salah satunya adalah orang hitam. Nah, kemarin itu penampilan dia saya suka banget. Dia nyanyiin lagu Boys II Men yang End of The Road. Emang nggak mungkin saya bandingin dia sama penyanyi aslinya, tapi dia bisa menampilkan lagu itu dengan caranya sendiri. Rupanya pujian dari para juri tidak membawanya ke babak selanjutnya. Lagu End of The Road itu pun yang akhirnya membawa dia pulang. Favorit saya sebenernya bukan dia, tapi waktu namanya diumumkan yang harus pulang malam itu, saya cuma bengong dan merhatiin TV tanpa bisa ngomong apa-apa. Yang saya tahu hanyalah, rasis itu memang eksis banget di dunia. Bukannya mau nuduh sih, tapi ini bukan yang pertama. Sudah sering banget saya lihat acara-acara kaya gini, yang berkulit hitam dan bagus pasti akan lebih dulu pulang dibanding yang orang asli padalah kemampuannya standart. Kesellah saya pokoknya! Grrrrr. Silahkan dinikmati sajalah videonya diatas, semoga ada yang setuju sama saya, dia memang bagus. Hehe :)

→ 4 CommentsCategories: Uncategorized

Menuju EURO 2008

April 8, 2008 · 17 Comments

Seperti yang sudah diketahui, EURO 2008 akan diadakan di Austria dan Swiss. Saya nggak begitu ngikutin perkembangan yang di Swiss, tapi kalau yang di Austria saya masih lumayan merhatiin. Pemerintah Austria ternyata bener-bener semangat menyambut EURO 2008. Di Vienna contohnya, pemerintah sengaja membangun satu gedung stasiun kereta baru untuk mempermudah para penggemar sepak bola mencapai stadion dari pusat kota. Peresmiannya akan diadakan tanggal 10 Mei mendatang. Tadi waktu saya pulang dari kampus, saya sempet baca di koran, dalam waktu satu jam diprediksi kereta dapat mengangkut kurang lebih 50.000 fans ke stadion. Stasiun kereta ini dibuat dengan design modern yang simpel. Saya sih suka, soalnya stasiun kereta disini umumnya sudah kuno semua hehe.

Pemerintah juga sudah menyiapkan lapangan parkir gratis yang dapat memuat sekitar 1.850 mobil, dan tersedia lapangan parkir seharga 3 Euro per hari yang dapat memuat 5.700 kendaraan. Sudah banyak toko-toko yang menjual atribut-atribut seperti kaus, poster, gelas, baju-baju pemain bola, dan lainnya sejak akhir tahun kemarin. Yang saya pengen banget punya, ada bola berukuran ¼ dari ukuran bola biasa, berwarna abu-abu dan ada tulisan EURO 2008 ditengahnya. Tapi ya gitu, harganya mahal. Jadi kalau ada toko-toko olahraga, saya suka masuk cuma untuk mainin bolanya :) Di pintu masuk salah satu supermarket besar sudah ada boneka simbol EURO 2008, kaus yang didominasi warna merah tergantung ditoko-toko roti, dan Café-café mulai promosi jadwal nonton bola.

Sekarang ini lagi gencar-gencarnya orang-orang pada ikutan undian. Saya pengen ikut sih, tapi kalau inget kemungkinan menangnya dikit, daripada buang-buang duit mending nggak usah. Sebenernya saya mau banget nonton langsung, tapi waktu saya cek harga tiketnya, yang duduk paling belakang aja sudah sekitar 300 Euro. Mending keliatan siapa yang lagi bawa bola. Jadi saya memutuskan buat nonton bola dari lapangan parkirnya aja :) Atau mungkin, saya tunggu informasi dari temen, siapa tau ada yang jual tiket murah. Soalnya kemarin ini saya sempet nggak tau, tiket nonton bola Austria lawan Belanda harganya 11 Euro buat pelajar. Tau gitu kan saya beli huhu. Walau begitu, kalau ada yang ikut undian disana terus dapet tiket nonton bola kesini, kasih ke saya aja deh. Hehehe :)

→ 17 CommentsCategories: Vienna

Hundertwasserhaus, Vienna

April 3, 2008 · 15 Comments

Waktu pertama kali saya dateng ke Vienna, bukan seneng yang saya rasain, yang ada malah saya sedikit kecewa. Bukannya gemana, saya dateng dari bekasi (penuh dengan orang dan mobil dimana-mana), tiba-tiba udah ada di sebuat kota yang sangat sepi (catat : SANGAT SEPII). Kalau mau digambarin, 11 12 lah sama yang kita liat di Silent Hill itu. Okay, saya sedikit melebih-lebihkan. Tapi saya harus mengakui, bangunan di sini bagus-bagus! Dan salah satu yang sangat menarik buat saya itu Hundertwasserhaus.

Jadi ada satu pelukis Austria yang namanya Friedensreich Regentag Dunkelbunt Hundertwasser. Karyanya terkenal dengan bentuk yang tidak teratur, dan apartemen yang diambil dari nama belakangnya inilah salah satu hasilnya. Yang jelas bukan seperti apartemen kebanyakan di Jakarta. Yang ini unik banget! Sebenernya dia sendiri ngebuat Hundertwasserhaus dengan tujuan memberikan tempat tinggal untuk orang-orang yang kurang mampu.

Bukan hanya bentuk luarnya aja yang unik. Sampe dalem-dalemnya juga unik! Karena lantainya ada yang miring, malah ada yang bergelombang. Bisa ngebayangin nggak kita harus tinggal di suatu tempat yang lantainya aja nggak rata?! Ukuran kamarnya juga beda-beda, dari yang kotak, persegi panjang, dan lonjong kesana-sini. Terus dari dalam ruangannya itu tumbuh tanaman-tanaman sampai keluar dari jendela. Atapnya juga nggak biasa, karena dibuat dari tanah.

Sekarang tempat ini dijadikan salah satu objek wisata yang paling sering didatangi para turis. Untungnya disana ada sebuah Cafe. Hitung-hitung turis yang dateng nggak hanya foto bangunannya dari luar aja, tapi bisa menikmatinya juga dengan duduk-duduk sambil minum kopi disana. Saya aja yang udah satu tahun lebih disini baru liat langsung 2 minggu lalu hehe. Btw, masih banyak yang bisa saya bagi soal Vienna. Secepatnya akan saya tulis. Untuk sementara ini dulu :)

Gambar diambil dari sini.

→ 15 CommentsCategories: Vienna

Review : The Game Plan

March 28, 2008 · 8 Comments

Minggu lalu saya baru nonton The Game Plan, padahal DVDnya udah ada dari bulan lalu. Sayanya aja yang nggak sempet nonton. Basi ya?! Biarlah, saya hanya mau membagi reviewnya buat yang belum nonton.

Film yang di sutradarai oleh Andy Fickman ini bercerita tentang seorang pemain American football bernama Joe Kingman yang diperankan oleh Dawyne Johnson (kita juga mengenalnya sebagai The Rock). Kehidupan Joe Kingman dipenuhi dengan kemewahan, party, dan ia sangat dikenal oleh semua orang dengan slogannya “Never Say No!”. Hidupnya begitu sempurna, sampai suatu hari ia kedatangan seorang gadis kecil bernama Peyton. Ia mengaku sebagai anak dari Joe Kingman dan mengatakan bahwa ibunya menyuruhnya datang ke tempatnya, karena sang ibu harus pergi untuk urusan pekerjaan di Africa. Peyton membawa sebuah surat dan akte kelahiran yang membuktikan bahwa ia memang putri Joe Kingman.

Joe Kingman harus beradaptasi dengan keberadaan Peyton, seperti harus mendengar musik klasik karena Peyton disarankan oleh gurunya untuk latihan balet. Lalu Joe Kingman harus rela gagal melakukan kencan dengan seorang wanita karena Peyton muncul dan mengatakan kalau ia anak dari Joe Kingman. Bukan hanya itu saja yang dilakukan olehnya agar ayahnya tidak berkencan dengan wanita lain.

Kehadiran teman-teman Joe Kingman juga sangat menghibur di film ini. Yang jelas, ada banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari film ini. Saya sih bukannya pelit nggak mau lanjutin reviewnya, tapi kalau nonton sendiri pasti lebih seru. Walt Disney Pictures kembali menghasilkan satu lagi film yang dapat diacungkan jempol. Dan saya memberikan nilai 7,5 dari 10 untuk film berdurasi 110 menit ini.

Gambar saya ambil dari sini.

→ 8 CommentsCategories: Review

Minyak Kayu Putih vs VICKS

March 24, 2008 · 9 Comments

Kemarin malam, sambil menunggu pengumuman eliminasi Deutschland Sucht den Superstar (semacam Indonesian Idolnya Jerman), saya mikir-mikir, kira-kira tema apa yang enak untuk dijadikan bahan post. Tiba-tiba saudara saya datang dan meminta tolong dipijitin karena masuk angin. Dia memberikan saya sebotol minyak kayu putih. Dan saat itulah saya mendapat ide (kalau di komik versi saya, lagi ada gambar lampu kedap-kedip loncat-loncat jungkir balik kegirangan).

Kebetulan sekali, orang-orang yang ada di sekitar saya itu tidak jauh-jauh dengan yang namanya Minyak Kayu Putih dan Vicks. Lalu saya menemukan hal-hal ini :

Minyak Kayu Putih
Di bagian botolnya tertulis
“Sangat manjur untuk masuk angin, batuk, mual, muntah, sakit perut, dan sebagainya.”
Yang saya setujui dari pernyataan di atas adalah Minyak Kayu Putih sangat manjur untuk masuk angin dan sakit perut. Ya, mungkin sedikitlah untuk mual.
VICKS
Di bagian botolnya tertulis
“Obat gosok untuk meringankan gejala pilek dan batuk karena flu”
Dan ada tambahan di bagian cara penggunaan untuk pegal-pegal.Untuk yang ini, saya setuju sama semua pernyataan yang ditulis. Kenapa? Tertulis di sana MERINGANKAN. Bukan MENYEMBUHKAN, MENGHILANGKAN atau apalah yang akhirnya membuat slogan VICKS terkesan tidak mengada-ada.

Lalu saya melakukan riset kecil-kecilan ala saya sama orang-orang sekitar saya yang menggunakan kedua produk tersebut. Hasilnya:

Minyak Kayu Putih dianggap sangat berkhasiat saat masuk angin dan sakit perut (Tuh kan, bener kata saya! Hahaha). Keuntungan yang didapat kalau kita menggunakan Minyak Kayu Putih adalah tidak akan ada bekas yang tersisa pada baju setelahnya. Dan inilah yang menjadi kerugian bagi si VICKS. Setelah menggunakan VICKS, baju kita akan dengan suksesnya mendapat hadiah bonus ekstra : sisa VICKS yang lengket di baju dan akan menyisakan bercak. Terus bagaimana jadinya kalau kita tiba-tiba terserang pilek di sekolah, kampus, tempat kerja, atau dimana saja? Untuk yang satu ini produk VICKS memang sudah bersiap-siap. Mereka mengeluarkan VICKS INHALER yang bisa mengurangi pilek yang diderita tanpa meninggalkan apapun, bahkan tidak berbau. Lalu VICKS mengeluarkan obat untuk yang terserang batuk. Sayang aja, belum dikeluarin produk baru untuk menghilangkan pegal-pegal. Mungkin selanjutnya? (Atau jangan-jangan udah ada, sayanya aja yang nggak tau).

Nah, untuk soal bau lain lagi. Kadang-kadang kalau kita menggunakan VICKS agak banyak, bau yang dihasilkan juga “agak banyak”. Bisa jadi menganggu, bisa jadi ada yang suka sama baunya. Kalau saya mau jujur sih, baunya kadang agak ngeselin. Hehe. Sedangkan Minyak Kayu Putih itu, baunya nggak terlalu menyengat. Tapi kadang saya agak ragu bawa Minyak Kayu Putih, seperti saat melakukan perjalanan kecil-kecilan ke luar kota atau ke negara tetangga. Takut tumpah! Bisa aja tiba-tiba saya lupa nutup bener, akhirnya tumpah di dalam tas saya. Huargghhh, hancur perjalanan. Dan untuk ini, saya lebih suka bawa-bawa VICKS.

Kalau saya sendiri disuruh milih sih, saya masih bingung. Dua-duanya mempunyai fungsi yang berbeda buat saya. Jadi saya membutuhkan kedua produk ini, untuk bertengger manis disalah satu bagian rumah. Saya bukan promosi loh. Sungguh! :)

→ 9 CommentsCategories: Uncategorized

Γειάσου

March 21, 2008 · 8 Comments

Akhirnyaaa.. Setelah lama mondar-mandir di blog-blog orang (sekedar untuk baca post-post mereka), saya punya blog juga! Sebenernya ada sedikit keingin-ikut-ikutan melihat abang saya yang sudah punya blog terlebih dahulu. Hehe. Lalu setelah saya sering memberikan ide-ide untuk bahan postnya, mungkin karena dia cape juga denger saya ngomong terus, abang saya itu pun nyaranin saya untuk bikin blog. Setelah mengacuhkan sarannya, pada akhirnya malah saya yang memaksa dibuatkan blog (=saya agak gaptek untuk soal blog-blogan). Untungnya, malam itu si abang lagi baik-baiknya dan tidak marah-marah seperti biasanya, sehingga saya sekarang punya blog! Fiuhh.

Selamat datang di blog saya. Siapa pun yang mampir dan membacanya, semoga bisa dinikmati. :)

→ 8 CommentsCategories: Personal Notes